Sosok

Sosok
Headlines News :

Sosok

Sosok
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan

Kemantapan Da'i Menghadapi Situasi Sulit, Rumit dan Tak Sesuai Harapan


Dalam realitas medan dakwah, setiap aktivis akan berhadapan dengan berbagai macam kondisi dan situasi yang tidak semuanya sesuai dengan yang diharapkan. Saat menunaikan amanah dakwah, kader harus menghadapi situasi yang sulit bahkan rumit. Secara manusiawi, bisa muncul perasaan khawatir –bahkan takut—ketika menghadapi resiko atau situasi yang tidak dikehendaki.

Perasaan takut atau khawatir yang muncul pada diri aktivis dakwah adalah sesuatu yang bersifat manusiawi, namun harus mampu dikendalikan dan dikuasai agar tidak menghalangi penunaian amanah dakwah. Perasaan seperti itu pernah dimiliki pula oleh Nabi yang sangat kuat dan perkasa, Musa As. Perhatikan ungkapan ayat-ayat berikut :

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu menyeru Musa (dengan firman-Nya): “Datangilah kaum yang zalim itu, (yaitu) kaum Fir’aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?” Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku maka utuslah (Jibril) kepada Harun. Dan aku berdosa terhadap mereka, maka aku takut mereka akan membunuhku.” Allah berfirman: “Jangan takut (mereka tidak akan dapat membunuhmu), maka pergilah kamu berdua dengan membawa ayat-ayat Kami (mukjizat-mukjizat); sesungguhnya Kami bersamamu mendengarkan (apa-apa yang mereka katakan)” (Asy Syu-ara’ : 10 – 15)

Dalam ayat-ayat di atas, Musa merasa takut atau khawatir bahwa dirinya akan didustakan bahkan dibunuh. Musa mengatakan dia berdosa terhadap orang-orang Mesir (walahum ‘alayya dzanbun) adalah menurut anggapan orang-orang Mesir itu, karena sebenarnya Musa tidak berdosa sebab dia membunuh orang Mesir itu tidak dengan sengaja. Selanjutnya bisa dilihat pada surat Al Qashash ayat 15.

Beberapa pelajaran Fiqih Dakwah yang bisa diambil dari rangkaian ayat-ayat di atas antara lain:

1. Nabi Musa pun memiliki perasaan takut atau khawatir dalam menunaikan amanah dakwah

Perhatikan curhat Nabi Musa kepada Allah Ta’ala dalam ayat di atas. Berkata Musa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku”. Dalam penggalan ayat berikutnya, Nabi Musa mengatakan, “…maka aku takut mereka akan membunuhku”.

Nabi yang dikisahkan memiliki fisik yang kuat, memiliki kekuatan yang hebat, namun masih memiliki perasaan khawatir atau takut ketika hendak menjalankan perintah dari Allah. Sesungguhnya perasaan seperti ini memang sangat manusiawi, namun tidak boleh digunakan sebagai pembenar untuk tidak melaksanakan tugas dakwah. Perasaan khawatir dan takut itu harus segera diatasi dan dikuasai agar tidak melalaikan amanah dakwah.

2. Nabi Musa mampu menguasai perasaan takut dalam dirinya

Kendati Nabi Musa menyatakan perasaan takut dan khawatir, namun tidak ada ungkapan permakluman atau meminta izin kepada Allah agar diberikan keringanan untuk tidak melaksanakan perintah Allah. Kadang dijumpai sebagian aktivis menolak melaksanakan suatu amanah dakwah, hanya dengan pertimbangan perasaan takut dan khawatir. Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan, karena berarti sang aktivis tidak mampu menguasai perasaannya.

Justru Nabi Musa meminta kepada Allah agar diberi teman, yaitu Harun, untuk bersama-sama menunaikan perintah Allah. Artinya, perasaan takut dan khawatir dalam dirinya tidak dibiarkan berkembang menjadi sifat pembangkangan dan penolakan terhadap perintah Allah. Sudah selayaknya para aktivis dakwah mengambil pelajaran penting dari sikap Nabi Musa ini. Tidak pantas bagi aktivis dakwah untuk mengelak dari amanah dakwah hanya karena pertimbangan ketakutan atau kekhawatiran.

Perasaan semacam itu wajar dan manusiawi, namun harus dikuasai dan diarahkan agar tidak menyebabkan lalai dari amanah dakwah.

3. Pentingnya teman yang menguatkan pelaksanaan amanah dakwah

Ketika Nabi Musa mendapatkan perintah untuk menghadapi Fir’aun sendirian, terbayang betapa kesulitan akan menghadang dirinya yang memiliki keterbatasan. Ungkapan Nabi Musa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku takut bahwa mereka akan mendustakan aku. Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku” menandakan kekhawatiran Nabi Musa bahwa dirinya akan didera emosi atas pengingkaran Fir’aun, sehingga membuat Musa tidak lancar berkomunikasi menyampaikan peringatan kepadanya.

Selanjutnya Nabi Musa meminta kepada Allah agar diberikan teman untuk menunaikan perintah Allah tersebut sehingga bisa lebih tenang. Ungkapan Nabi Musa “…..maka utuslah (Jibril) kepada Harun…” maksudnya agar Harun diangkat menjadi Rasul untuk membersamainya dalam menunaikan perintah Allah. Ini memberikan pelajaran tentang pentingnya teman dan kebersamaan yang akan menguatkan pelaksanaan amanah dakwah.

4. Pentingnya pendekatan kepada Allah untuk mendapatkan kekuatan jiwa

Ketika menghadapi perasaan yang takut dan khawatir menghadapi Fir’aun dan kaumnya, Nabi Musa segera memohon kekuatan kepada Allah. Munajat dan pendekatan kepada Allah sangat penting dilakukan setiap saat oleh para aktivis dakwah, karena hanya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Seluruh makhluk adalah lemah, hanya Allah yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tidak terbatas dan tidak tertandingi.

Mendekat kepada Allah akan menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran. Untuk itu para aktivis dakwah harus memiliki aktivitas ruhaniyah untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, agar Allah memberikan kekuatan, kemampuan dan kelancaran dalam menjalankan amanah dakwah. Suksesnya dakwah bukan semata ditentukan oleh kehebatan sang aktivis, namun yang menentukan kesuksesan hanyal Allah Ta’ala.[]

Anomali Toleransi di Dunia Barat



Rihan Handaulah
@rihandaulah
(Alumni Rohis sedang kuliah di Belanda)

Hari ini di kelas saya belajar mata kuliah Cross Cultural Management dengan Textbook-nya yaitu: Culture and Organization tulisan Geert Hofsetde, salah satu pakar manajemen terbaik di Eropa dari Univ Maastricht. Yang menarik adalah bagian yang membahas Cultural Dimension. Disebutkan bahwa budaya erat kaitannya dengan sejarah, dan dalam satu bagian tentang kecenderungan penerimaan akan perbedaan beliau mengatakan:

“..Islam dalam sejarahnya lebih toleran kepada agama lainnya daripada Katolik Roma. Perang Salib adalah produk intoleransi Kristiani bukan Muslim. Di kesultanan Usmani, ahli kitab bisa hidup bebas mengamalkan ajaran mereka, dengan suatu kewajiban membayar pajak. Di sisi lain, bahkan Protestan yang dianggap lebih “broad-minded” memakan korban dari intoleransi beragama seperi Michael Servetus yang dibakar hidup-hidup oleh pengikut John Calvin di Genewa tahun 1553. Mereka juga membakar orang-orang yang disangka sebagai tukang sihir. Bahkan di di awal abad 21, fundamentalis Kristen menyatakan Harry Potter karya J.K.Rowling adalah karya setan.“ (hal. 228)

Menarik untuk kita simak bahwa peradaban pernah mengalami satu benturan yang dahsyat. Dengan membaca sejarah kita bisa bersikap bijak. Refleksi atas sejarah mestinya membawa kita kepada kesadaran kolektif yang membentuk budaya saat ini yang lebih baik. Seperti umat Islam yang menorehkan sejarah emas dalam hal toleransi bahkan ilmuwan barat yang objektif pun mengakuinya, mestinya menjadikan sejarah sebagai inspirasi untuk tetap menjadi umat yang adil dan toleran.

Begitu pula dengan eropa (barat) saat ini yang mainstream-nya sangat toleran kepada agama lain juga patut dicermati sebagai sebuah masyarakat yang belajar. Tapi tentu saja dengan nilai dan sejarah yang berbeda, maka konsepsi toleransinya pun jadi berbeda. Jika umat Islam menjadikan toleransi sebagai bagian yang inheren dari agamanya, maka sebaliknya toleransi barat didasarkan atas liberalisme dan sekulerisme, di mana agama menjadi hal yang tak relevan/ tabu dibicarakan di publik. Tidak peduli atas keyakinan masing-masing karena itu adalah urusan individu. Ini adalah hasil belajarnya barat selama berabad-abad termasuk traumatik atas peran gereja di abad pertengahan. Demikian konsep yang berbeda antara toleransinya umat Islam dan barat.

Setahu saya belum ada kasusnya umat Islam menghina sesembahan atau nabinya agama lain, karena itu adalah konsep yang inheren dalam Quran. Umat Islam tidak berbasa-basi dengan mengatakan semua agama benar dan Quran pun secara eksplisit mengecam konsep keyakinan dengan banyak sesembahan. Tetapi inheren juga dalam ajaran Quran bahwa kita pun harus menghormati dan tidak boleh merusak atau sekedar menghina sesembahan mereka mereka atau pun rumah ibadah mereka. Dan ketaatan pada nilai inilah yang menjaga umat Islam dari sikap intoleran.

Adapun jika ada perilaku umat Islam yang intoleran, maka itu pun adalah produk dari keadaan. Intoleransi umat Islam disebabkan oleh sikap inferioritas akibat penjajahan selama berabad-abad hingga abad ke-20. Bahkan berlanjut setelah itu di mana konflik Islam dan barat tetap berlanjut, darah tertumpah dan umat Islam selalu yang menjadi korbannya. Dari mulai Palestina, Bosnia, Cechniya, Kosovo, Moro, Patani, Rohingya, Poso, hingga Ambon. Dengan posisi yang terus menjadi korban maka perlahan timbul rasa dendam, kecurigaan, serta selalu dalam posisi aba-aba untuk diserang. Ini menjai bibit radikalisasi yang akhirnya dimainkan oleh pemain yang itu-itu juga menjadi “terorisme”

Berbeda dengan barat yang toleransinya adalah produk evolusi budaya, ideologi, dan nilai-nilai. Maka kemungkinan anomali-anomalinya lebih banyak muncul. Sekalipun pada umumnya toleransi beragama sudah maju di barat tapi kita sendiri tahu bahwa nyaris tak pernah kosong media kita dari berita tentang penghinaan agama. Dan yang membuat saya terkejut ternyata bukan hanya Islam (Quran atau Nabi Muhammad saw) yang menjadi sasaran, Kristen sendiri pun (Yesus) tak kalah banyaknya dijadikan bahan cacian. Sesuatu yang amat menyedihkan. Dan kini saya lebih mendapat gambaran bahwa penyebabnya adalah faktor sejarah serta evolusi nilai dan budaya yang belum tuntas.

Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad saw yang tak kurang manusia menghinanya sejak zaman beliau hidup hingga kini, dan tak pernah serta tak akan berkurang sedikit pun cahaya kemuliaan dan keagungannya. Maka jika kita marah atas penghinaan yang beliau dapatkan maka itu bukan karena kita takut beliau menjadi terhina, tapi kita takut jika tidak ada cinta yang tulus di hati kita kepadanya. Cinta butuh pembuktian. Marah adalah salah satu buahnya. Tapi dengan marah yang mulia, sebagaimana Rasul saw jika sedang marah.

Hasil merenung di kelas tadi siang,


Delft, 17 September 2012
 

World News

.

Sosok

Sosok

Trending Template

.

Analisa

Analisa
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Tarbiyatuna - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger