Sosok

Sosok
Headlines News :

Sosok

Sosok
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Subhanallah, Hujan Turun Deras Usai Gubernur Jabar Pimpin Sholat Istisqa



Bandung - Sekitar pukul 12.30 WIB, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama jajaran pegawai di lingkungan Pemprov Jabar selesai menjalani sholat istisqa di halaman Gedung Sate Kota Bandung (18/9). Tak berselang lama, sekitar dua jam kemudian, hujan deras mengguyur sebagian wilayah Kota Bandung.

Berdasarkan pantauan INILAH.COM, hujan cukup lebat turun sekitar 15.30 WIB membasahi wilayah Ujungberung dan sepanjang Jalan Soekarno Hatta (By Pass). Tidak hanya itu, awan hitam pun menggelayut di langit Kota Bandung. Sawah kering di sepanjang Jalan Soekarno Hatta juga mulai tergenangi air.

"Alhamdulillah hujan turun juga, tadi memang suasana cukup panas tapi setelah turunnya hujan ini akhirnya lega juga," kata salah seorang warga Jatnika saat ditemui di Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung, Selasa (18/9/2012).

Sebelumnya dalam khutbah saat salat istiqa, Heryawan mengatakan, dirinya berharap dengan dilakukannya ibadah kali ini di Jabar akan segera turun hujan.

"Mudah-mudahan, besok atau lusa di Jawa Barat dapat secepatnya turun hujan, mengingat saat ini hujan sudah sangat jarang sekali terjadi," ujar Heryawan.

Oleh Nooviyanti U


“Bu, tanggal 10, ya” ujarku hari itu setelah mencari-cari tanggal untuk pertemuan komunitas teman-teman yang suka menulis dan membaca. Ibu pun menyanggupi dengan senang hati tanpa ada keberatan sama sekali. Kami pun mulai membuat menu makanan dan apa saja yang harus dibeli dan dimasak. Aku mengusulkan makanan sederhana saja dan tidak berlebihan. Ibu pun menyetujuinya. Aku mendapat bagian untuk membeli kue di toko dan juga pabrik kue di dekat rumah. Membeli beberapa jenis camilan dan memesan kue favorit. Ibu sudah berbelanja dan siap memasak untuk tanggal 10.

Alhamdulillah, acara berlangsung lancar dengan satu komitmen untuk terus berkarya dan selalu menjalin silaturahim. Selepas teman-teman kembali ke rumahnya kami pun mulai membereskan kembali ruang tamu dan makanan yang tersisa.

Satu wajah lelah yang penuh senyum adalah ibu. Beliau dengan tulus, memfasilitasi pertemuan di hari itu. Ibu memasak, menyiapkan segala jenis yang diperlukan, memesan minuman, dan mengomandai khadimat di rumah. Semua bisa teratasi dengan sikap dan dukungan ibu atas kegiatan-kegiatanku. Ini bukanlah kali pertamanya ada acara di rumahku. Sudah beberapa momen diadakan acara di rumah yang sederhana ini. Dari dulu, rumah ini tak pernah sepi dari orang yang berkunjung. Tak jarang juga ada banyak acara yang diadakan. Dari mulai acara syukuran, akikahan, pengajian, buka puasa bersama, pertemuan penulis, arisan dan banyak lagi.

Ibu tak pernah merasa lelah ketika salah satu dari kami meminta tolong beliau ketika ada acara di rumah. Beliau malah sangat antusias dan memfaslitasi segala hal. Ketika ada kelebihan uang, ibu membeli karpet, tempat sop, beberapa lusin piring dalam beberapa kesempatan. Aku kadang bertanya buat apa barang-barang tersebut. Ibu pun menjawab, kalau ada acara di rumah, barang-barang tersebut bisa digunakan. Beliau pun juga bercerita kalau merasa dimuliakan sebagai tamu ketika mendatangi sebuah acara dan ingin melakukan hal itu juga.

Dari kecil ibu telah diajarkan oleh mbah putri untuk selalu memuliakan tamu dalam berbagai kesempatan. Selalu menyediakan suguhan ketika ada tamu. Entah itu secangkir teh atau segelas air putih. Tak jarang juga menyuruh ikut makan bersama kami, membelikan makanan atau memesan makanan via telepon apabila ada tamu mendadak. Seorang teman pernah sungkan untuk ke rumah ketika beberapa kesempatan dia selalu makan di rumah. Padahal, kami sama sekali tak bermaksud membuat dia malu. Yah, ibu tak akan pernah lupa menawarkan makanan. Tak jarang menyediakan langsung di meja atau memanggil tukang dagangan yang lewat rumah.

Pernah suatu kali ketika aku mengadakan pengajian untuk kelompok mentoring, ibu terlihat terburu-buru. Ketika aku tanya, beliau ingin membelikan kue untuk kami. Aku hanya tersenyum sambil mengatakan kalau aku sudah membeli kue dengan salah satu binaanku. Aku tak pernah meminta ibu berlaku demikian, tapi beliau tak pernah berhenti. Jadi, tak jarang ketika aku katakan kalau aku akan mengadakan acara atau pengajian kelompok, beliau akan membuat minuman, membeli kudapan di pasar dan menyiapkan tempat. Duh, ibu...

Salah satu pelajaran dari ibu yang akan aku pegang untuk selalu memuliakan tamu.


http://akunovi.multiply.com/
http://novikhansa.wordpress.com

Sebelum Meninggal Dia Mengatakan, "Aku Mencium Bau Surga!"


Eramuslim.com - Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Ada tujug golongan orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tiada naungan seleain dari naunganNya... di antaranya, seorang pemuda yang tumbuh dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah."

Dalam sebuah hadits shahih dari Anas bin an-Nadhir ra, ketika perang Uhud ia berkata, "Wah... angin Surga, sungguh aku mencium bau Surga yang berasal dari balik gunung Uhud."

Seorang Dokter bercerita kepadaku, Pihak rumah sakit menghubungiku dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang dirawat. Ketika aku sampai, ternyata seorang pemuda yang sudah meninggal -semoga Allah merahmatinya. Lantas bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana pula dengan akhir hidupnya?

Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya -semoga Allah membalas kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia menjerit atau mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah sakit? Ataukah marah dan jengkel? Atau apa?

Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada mereka. "Jangan khawatir! Saya akan meninggal... tenanglah... sesungguhnya aku mencium bau Surga!" Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia mengulang-ulang kalimat trsebut di hadapan para dokter yang sedang merawatnya, ia berkata kepada mereka, "Wahai saudara-saudara, aku akan mati, janganlah kalian menyusahkan diri sendiri... karena sekarang aku mencium bau Surga."

Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, "Asyhadu alla ilaha illAllah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah". Ruhnya melyang kepada Sang Pencipta.

Allohu Akbar... Apa yang harus kukatakan dan apa yang harus aku komentari... semua kalimat tidak mampu terucap... dan pena telah kering di tangan... aku tidak kuasa apa-apa kecuali hanya mengulang-ulang firman Allah.

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim [14] : 27)

Tidak ada yang perlu dikomentari lagi. Ia melanjutkan kisahnya. Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudaranya Dhiya' di tempat memandikan mayat yang ada di rumah sakit tersebut. Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terkahir. Sebagaimana yang telah ia ceritakan sesuah shalat Magrib pada hari yang sama.

1. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat." Ini merupakan tanda-tanda khusnul khatimah.

2. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga para persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan mayat. Padahal tubuh rang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan kaku.

3. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan persaksiannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.

Subhanalloh...sungguh indah kematian seperti ini. Kita mohon semoga Alloh menganugerahkan kita husnul khatimah.

Saudara-saudaraku tercinta... kisah belum selesai... saudara Dhiya' bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang biasa ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabannya?

Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang terlarang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia kerjakan? Mengapa ia mendapatkan husnul khatimah yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkan; meninggal dengan mencium bau Surga.

Ayahnya berkata, "Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapar melaksakan shalat Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur'an dan termasuk salah seorang siswa yang berprestasi di SMU."

Aku katakan, "Maha benar Alloh yang berfirman, 'Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, "Rabb kami ialah Alloh" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan kepadamu" Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (QS. Fushshilat [41] : 30-32)

(Serial Kisah Teladan; Muhammad bin Shalih Al-Qahthani)

GAYA HIDUP PEJABAT



Gaya hidup sederhana adalah ciri penampilan Rasulullah SAW, seorang yang bukan hanya nabi, tetapi beliau juga seorang pemimpin tertinggi dalam negara Madinah.

Kalau mau diukur-ukur, sebenanya Rasulullah SAW bukan termasuk orang miskin dan tidak punya, sebaliknya beliau seharusnya termasuk jajaran orang paling kaya di Madinah. Sebab menurut sebuah analisa, beliau punya hak 20% dari setiap harta rampasan perang yang didapat. Sebagaimana ayat tentang khumus berikut ini:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Anfal: 41)

Seperlima atau 20% itu sangat banyak, apalagi diambil dari harta rampasan perang atas penaklukan. Tentunya nilainya sangat besar dan halal, karena memang telah ditetapkan langsung oleh Allah SWT.

Logikanya, kalau seandainya Rasulullah SAW mau tampil keren, baju mahal, rumah mentereng, isterinya yang banyak itu semua dipakaikan gelang emas sebesar pelek becak, bisa-bisa saja dan sah-sah saja. Wong duitnya duit dia sendiri, halal pula. Urusan orang lain pada hidup miskin, kan perlu proses.

Tapi tidak...

Beliau tidak pernah tampil keren dengan baju yang mahal. Beliau justru merasa lebih nyaman untuk tampil seadanya. Toh, tampil sederhana dan seadanya, tidak akan membuat orang menghina dan atau merendahkannya. Dan musuh-musuh beliau tidak pernah menyerang beliau dari sisi kemiskinan dan kesederhanaan. Pembangkangan kaumnya bukan karena beliau miskin dan tampil sederhana.

Sudah bukan hal yang aneh kalau beliau pernah kelaparan berbulan-bulan, sampai harus mengganjal perutnya dengan batu. Coba pikirkan, seumur-umur kita jadi rakyat miskin di Indonesia, rasanya kalau sampai harus mengganjal perut dengan batu karena lapar, rasanya kok belum pernah kan ya?

Tapi itulah Muhammad SAW, seorang kepala negara yang di tangannya ada kekuasaan tertinggi di seluruh jazirah Arabia. Tapi dapurnya pernah tidak mengepulkan asap selama tiga bulan.

Lalu ke mana hartanya yang seabrek-abrek itu, kenapa tidak dibuat untuk mensejahterakan dapurnya? Jawabnya bahwa harta itu meski menjadi haknya, tapi tidak pernah sampai ke rumahnya. Semua kembali diserahkan kepada fakir miskin. Dan isteri-isteri beliau ridha akan hal itu.

Jadi cerita nabi kelaparan cari makan ke sana kemari, sudah menjadi pemandangan sehari-hari semasa hidupnya. Bayangkan, pernah beliau pagi-pagi ke rumah Aisyah kelaparan minta makan. Namun sama dengan suaminya, Aisyah pun tidak punya makanan.

Aneh juga ya, masak seorang kepala negara dengan wilayah yang membentang begitu luas dan kekayaan yang tak terhingga, sampai bisa kelaparan di pagi hari. Minta makan kepada isterinya, ternyata juga tidak punya makanan. Akhirnya beliau SAW pun berpuasa. Subhanallah.

Gaya hidup sederhana ini, karena dilakukan langsung oleh seorang kepala negara, pastinya akan menurun kepada para pejabat di bawahnya.

Sebut saja khalifah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu. Beliau adalah penaklum tiga imperium besar dunia: Romawi, Persia dan Mesir. Logika sederhana, wajar dong sebagai kepala negara yang menguasai wilayah yang sedemikian luas, setidaknya punya baju lebih dari satu.

Tapi hampir tidak masuk di logika kita hari ini. Seorang Umar bisa-bisanya punya pakaian hanya satu potong saja, itu pun lengkap dengan asesoris 40 tambalannya.

Lengkap sudah keagungan agama Islam, bukan hanya teori saja, tetapi memang langsung dipraktekkan oleh para pemimpinnya. Meski kemegahan dunia dan kekayaan ada di tangan, tapi sama sekali tidak dicintainya. Mereka lebih suka tampil sederhana, bahkan terlalu sederhana.

Seorang utusan dari negeri Romawi ketika menemukan sang Khalifah tertidur di bawah pohon tanpa pengawal, sontak menyebutkan ungkapan jujur dan tercatat dengan tinta emas sejarah, "Anda telah berbuat adil, maka anda hidup dengan aman, dan anda bisa tidur nyenyak."

Kalau yang hidup sederhana itu Abu Hurairah yang memang ahli suffah, mungkin kita masih bisa berpikir wajar. Tapi kalau seorang pemimpin level tertinggi, bisa sampai hidup sesederhana ini, maka kita pun harus berpikir ulang, kenapa mereka melakukan itu? Apakah Islam mengharamkan pejabat hidup dengan hasil keringat mereka? Apakah Islam mengharamkan kita menikmati kekayaan yang halal?

Jawabnya sederhana. Menikmati kekayaan hasil keringat sendiri memang halal dan sah. Namun ketika seorang diberi amanah untuk mengurus umat, meski memang ada jatah gaji baginya, namun nampaknya para pendahulu kita sejak awal sudah menjauhi fitnah bagi dirinya.

Ternyata hidup enak dengan berbagai fasilitas yang sah dari negara itu tidak banyak bermanfaat, bahkan fitnah dengan mudah masuk. Bukankah Utsman bin Al-Affan itu sudah kaya jauh sebelum beliau menjadi khalifah? Bukankah beliau menikmati kekayaan miliknya yang sudah dimilikinya jauh sebelum beliau mendapatkan jabatan? Bukankah memang beliau sudah kaya jauh sebelum dilahirkan orangtuanya?

Tetapi kita tahu dalam sejarah, ada begitu banyak tuduhan dan fitnah keji yang dilontarkan kepada sosok beliau, dan salah satunya adalah hidup bermewah-mewah. Kita tahu bahwa hal itu tidak betul, karena itu hanya kerjaan orang-orang yang memusuhi.

Tapi munculnya fitnah harta bagi khalifah Ustman memang ada dan tidak bisa dipungkiri. Dan cukup menjadi masalah juga bagi beliau. Walau pun kita sepakat bahwa khalifah Ustman tidak bersalah dalam hal ini. Namun tetap saja gaya hidup seorang yang kaya dengan fasilitas dan harta, cukup merepotkan.

Pejabat di Zaman Kita

Lalu bagaimana dengan pejabat kita? Bukankah mereka kebanyakan masih miskin sebelum menerima suatu jabatan?

Dan bagaimana bila sekarang ini mereka punya rumah mewah, tanah, kapling, apartemen, mobil bermilyar, satpam bejibun, pembantu dan deposito?

Padahal awalnya mereka hidup kere, hidup ngontrak di rumah petak sempit, tiap bulan dikejar-kejar pemilik rumah untuk bayar kontrakan. Bahkan tidak sedikit yang hidupnya masih numpang di rumah mertua.

Tapi kini dengan jabatan itu, mereka bisa hidup layak berkecukupan. Punya mobil mewah yang berjejer di garasi, yang bukan ukuran rakyat biasa. Rumah sudah di real estate, isterinya bolak balik shopping ke luar negeri. Umrah dan jalan-jalan ke mancanegara pakai uang rakyat. Dan semua itu didapat justru ketika dirinya diberi amanat untuk menjadi pejabat atau wakil rakyat.

Lalu di mana gaya hidup sederhana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW serta para jajaran pejabat di kalangan shahabat?

Inilah barangkali yang pada akhirnya menimbulkan rasa kurang adil dan iri hati serta hasad di hati orang yang kurang baik imannya. Dan gaya hidup sederhana jadi pilihan hidup buat Nabi SAW dan para shahabat yang jadi pejabat dan orang besar. Agar tidak ada celah sedikit pun bagi orang yang kasat hati untuk menelikung lewat fitnah harta benda.

Kalau pun mereka mau melemahkan kita, bukan lewat fitnah harta, melainkan karena memang mereka membangkang dari ajaran Islam. Sehingga tidak ada hujjah bahwa Islam dijauhi hanya karena kecerobohan kita dalam gaya hidup.

Itulah barangkali masukan buat para du'at yang kini sedang menekuni dakwah lewat jalur birokrasi. Barangkali tidak salah kalau dimulai dari gaya hidup sederhana, merakyat, bersahaja, serta tidak menunjukkan perbedaan kelas dengan orang yang paling miskin di negeri ini.

Ketika Khalifah Umar meminta kepada rakyat Himsh untuk membuat daftar fakir miskin di wilayah itu, ternyata beliau terkejut sekali. Karena di dalam daftar itu ada nama seorang yang amat dikenalnya. Nama itu adalah nama gubernur Himsh, yang belum lama ini beliau angkat. Nama sang Gubernur ikut dimasukkan ke dalam daftar orang miskin oleh petugas, karena kenyataannya beliau memang hidup miskin.

Setela diselidiki, ternyata sang Gubernur bukan sekedar miskin, tapi 'terlalu amat sangat miskin sekali'. Bayangkan, pakaian yang dimiliki hanya satu potong saja. Setiap sebulan sekali beliau libur satu hari tidak mengurusi rakyat, karena harus mencuci pakaiannya dan menunggunya sampai kering untuk langsung dipakainya kembali. Subhanallah.

Padahal negeri Himsh itu sangat kaya dengan pendapatan daerah. Ternyata Umar tidak salah ketika memilih seorang gubernur. Kalau orang seperti ini masih ada, pasti kita sudah bilang dia 'setengah malaikat'. Tapi dia bukan setengah malaikat, dia manusia biasa, namun beliau memang hasil pengkaderan dan pembinaan seorang murabbi besar, Muhammad Rasulullah SAW.

Lebih menarik lagi, ketika Umar mengirimkan uang untuknya sebagai gaji, sang Gubernur langsung berucap, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Isterinya mendengar sang Gubernur mengucapkan lafadz yang biasa diucapkan kalau mendengar ada kematian langsung penasaran, langsung bertanya, "Ada apa? Apakah Khalifah Umar meninggal dunia?"

Sang Gubernur menjawab, "Bahkan lebih dahsyat dari itu."

Rupanya sang gubernur mengucakan belasungkawa ketika menerima uang gaji yang memang haknya. Beliau malah membagikan uang gajinya itu untuk para fakir miskin di wilayahnya. Bahkan isterinya pun tidak tahu menahu uang itu. Dan sang Gubernur tetap dengan kesederhanaannya.

Gaya Hidup Pejabat yang Da'i

Mungkin gaya hidup sederhana ini ke depan malah menjadi media kampanye yang ditunggu-tunggu rakyat. Sebab rakyat sudah bosan dengan visi dan misi. Semua calon pejabat sama saja visinya, nyaris tidak ada bedanya.

Yang membedakannya justru pada gaya hidup. Kita lihat saja, apakah pejabat atau wakil rakyat itu hidupnya bersahaja atau tidak? Kalau masih pakai ajudan, pengawal, mobil mewah, jalan-jalan ke luar negeri, kelihatannya kurang merakyat.

Tapi kalau ke mana-mana naik bus kota, atau ke kantornya berhimpitan juga seperti rakyat naik KRL bersama pengamen, buruh, pegawai rendah, pedagang asongan termasuk tukang copet, nah yang begini nih yang kita pilih. Tidak peduli apa visi misinya, karena yang namanya lidah tidak bertulang.

Sebab yang mengaku mau memperjuangkan rakyat atau agama Islam sudah terlalu banyak, sampai kita bingung apa bedanya, semua mengaku pembela kaum lemah, tapi ke mana-mana naik mobil mewah. Jadi yang dibela itu apaan ya?

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc
 

World News

.

Sosok

Sosok

Trending Template

.

Analisa

Analisa
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Tarbiyatuna - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger